Wahai Tuhanku, ilhamkanlah daku supaya tetap bersyukur akan nikmat-Mu yang Engkau ‎kurniakan kepadaku dan kepada ibu bapaku, dan supaya aku tetap mengerjakan amal soleh ‎yang Engkau redai; dan jadikanlah sifat-sifat kebaikan meresap masuk ke dalam jiwa zuriat ‎keturunanku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada-Mu, dan sesungguhnya aku dari orang-orang ‎Islam (yang tunduk patuh kepada-Mu)‎

Selasa, 12 April 2011

Lelaki bernama AYAH....

Suatu ketika, ada seorang anak kecil bertanya
kepada ayahnya, tatkala tanpa sengaja dia melihat ayahnya sedang mengusap ‎wajahnya yang mulai berkerut-merut dengan badannya yang terbongkok-bongkok, ‎disertai suara batuk-batuknya.

Anak itu bertanya pada ayahnya : "Ayah, mengapa wajah ayah kian berkerut-merut ‎dengan badan ayah yang kian hari kian membongkok ?" Demikian pertanyaannya, ‎ketika ayahnya sedang berehat di beranda.

Si ayah menjawab : "Sebab ayah lelaki."

Anak itu berkata sendirian : "Saya tidak mengerti"...

Dengan kerut-kening kerana jawapan ayahnya membuatnya termenung rasa ‎kebingungan.

Ayah hanya tersenyum, lalu dibelainya rambut anaknya itu, terus menepuk-nepuk ‎bahunya, kemudian si ayah mengatakan : "Anakku, kamu memang belum mengerti ‎tentang lelaki." Demikian bisik Si ayah, yang membuat anaknya itu bertambah ‎kebingungan.

Kerana perasaan ingin tahu, kemudian si anak itu mendapatkan ibunya lalu bertanya ‎kepada ibunya : "Ibu, mengapa wajah Ayah jadi berkerut-merut dan badannya kian ‎hari kian membongkok? Dan sepertinya ayah menjadi demikian tanpa ada keluhan ‎dan rasa sakit ?"

Ibunya menjawab : "Anakku, jika seorang lelaki yang benar-benar bertanggungjawab ‎terhadap keluarga itu memang akan demikian."

Hanya itu jawapan si ibu. Si anak itupun kemudian membesar dan menjadi dewasa, ‎tetapi dia tetap juga masih tercari-cari jawapan, mengapa wajah ayahnya yang ‎tampan menjadi berkerut-merut dan badannya menjadi membongkok?

Hingga pada suatu malam, dia bermimpi. Di dalam impian itu seolah-olah dia ‎mendengar suara yang sangat lembut, namun jelas sekali. Dan kata-kata yang ‎terdengar dengan jelas itu ternyata suatu rangkaian kalimah sebagai jawapan rasa ‎kebingungannya selama ini.

‎"Saat Ku-ciptakan lelaki, aku membuatnya sebagai pemimpin keluarga serta ‎sebagai tiang penyangga dari bangunan keluarga, dia senantiasa akan berusaha ‎untuk menahan setiap hujungnya, agar keluarganya merasa aman, teduh dan ‎terlindung."

‎"Ku ciptakan bahunya yang kuat dan berotot untuk membanting-tulang ‎menghidupi seluruh keluarganya dan kegagahannya harus cukup kuat pula untuk ‎melindungi seluruh keluarganya."

‎"Ku berikan kemahuan padanya agar selalu berusaha mencari sesuap nasi yang ‎berasal dari titisan keringatnya sendiri yang halal dan bersih, agar keluarganya ‎tidak terlantar, walaupun seringkali dia mendapat cercaan dari anak-anaknya".

‎"Ku berikan keperkasaan dan mental baja yang akan membuat dirinya pantang ‎menyerah, demi keluarganya dia merelakan kulitnya tersengat panasnya matahari, ‎demi keluarganya dia merelakan badannya berbasah kuyup kedinginan dan ‎kesejukan kerana tersiram hujan dan dihembus angin, dia relakan tenaga ‎perkasanya dicurahkan demi keluarganya, dan yang selalu dia ingat, adalah disaat ‎semua orang menanti kedatangannya dengan mengharapkan hasil dari jerih-‎payahnya."

‎"Kuberikan kesabaran, ketekunan serta kesungguhan yang akan membuat ‎dirinya selalu berusaha merawat dan membimbing keluarganya tanpa adanya ‎keluh kesah, walaupun disetiap perjalanan hidupnya keletihan dan kesakitan ‎kerapkali menyerangnya".

‎"Ku berikan perasaan cekal dan gigih untuk berusaha berjuang demi mencintai ‎dan mengasihi keluarganya, didalam suasana dan situasi apapun juga, walaupun ‎tidaklah jarang anak-anaknya melukai perasaannya, melukai hatinya.

Padahal perasaannya itu pula yang telah memberikan perlindungan rasa aman ‎pada saat dimana anak-anaknya tertidur lelap. Serta sentuhan perasaannya itulah ‎yang memberikan kenyamanan bila saat dia sedang menepuk-nepuk bahu anak-‎anaknya agar selalu saling menyayangi dan saling mengasihi sesama saudara."

‎"Ku berikan kebijaksanaan dan kemampuan padanya untuk memberikan ‎pengertian dan kesedaran terhadap anak-anaknya tentang saat kini dan saat ‎mendatang, walaupun seringkali ditentang bahkan dikotak-katikkan oleh anak-‎anaknya."

‎"Ku berikan kebijaksanaan dan kemampuan padanya untuk memberikan ‎pengetahuan dan menyedarkan, bahawa isteri yang baik adalah isteri yang setia ‎terhadap suaminya, isteri yang baik adalah isteri yang senantiasa menemani, dan ‎bersama-sama menghadapi perjalanan hidup baik suka mahupun duka, walaupun ‎seringkali kebijaksanaannya itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan ‎kepada isteri, agar tetap berdiri, bertahan, sepadan dan saling melengkapi serta ‎saling menyayangi."

‎"Ku berikan kerutan diwajahnya agar menjadi bukti, bahawa lelaki itu senantiasa ‎berusaha sekuat daya fikirnya untuk mencari dan menemukan cara agar ‎keluarganya dapat hidup didalam keluarga bahagia dan badannya yang ‎terbongkok agar dapat membuktikan, bahawa sebagai lelaki yang ‎bertanggungjawab terhadap seluruh keluarganya, senantiasa berusaha ‎mencurahkan sekuat tenaga serta segenap perasaannya, kekuatannya, ‎kesungguhannya demi kelanjutan hidup keluarganya."

‎"Ku berikan kepada lelaki tanggungjawab penuh sebagai pemimpin keluarga, ‎sebagai tiang penyangga ( seri / penyokong ), agar dapat dipergunakan dengan ‎sebaik-baiknya. Dan hanya inilah kelebihan yang dimiliki oleh lelaki, walaupun ‎sebenarnya tanggungjawab ini adalah amanah di dunia dan akhirat."
Terkejut si anak dari tidurnya dan segera dia berlari, berlutut dan berdoa hingga ‎menjelang subuh. Setelah itu dia hampiri bilik ayahnya yang sedang berdoa, ketika ‎ayahnya berdiri si anak itu menggenggam dan mencium telapak tangan ayahnya.

‎"Aku mendengar dan merasakan bebanmu, ayah."

Tiada ulasan:

Catat Ulasan